Jejak Seorang Guru: Dari Desa untuk Nusantara 
Home » Cerita  »  Jejak Seorang Guru: Dari Desa untuk Nusantara 

Ayah adalah seorang guru sekolah dasar di sebuah desa. Sejak aku kelas 3 SD, Ayah dianggap sebagai pahlawan oleh teman-teman. Karena senyum yang tulus dan semangat membagikan ilmu pengetahuan. Malam sebelum yg mengajar, Ayah bercerita tentang pelajaran seru yang akan ia sampaikan. Cerita-cerita itu membuat mataku berbinar berharap pagi segera datang. 

Kabar bahwa Ayah pernah menjadi juara nasional tersebar sampai ke penduduk desa. Beberapa media pun turut memberitakan. Semua orang bangga, kecuali Ayah. Karena melihat murid-murid gembira dalam belajar sudah cukup baginya. Saat ayah di kelas, belajar selalu menjadi petualangan berwarna. Ayah menyiapkan alat peraga sederhana. Kotak-kotak kecil soal berwarna-warni saling kami tukar. Adapula peta karton besar yang kami warnai bersama, serta boneka kain perca untuk drama bahasa. Setiap pelajaran disulap menjadi permainan edukatif.  Di mana kami terlibat aktif. Pelajaran yang sulit pun terasa ringan. Bagaikan cerita petualangan, kami berperan sebagai penjelajah yang mencari harta karun pengetahuan.

   Di sekolah Ayah juga menciptakan sudut literasi. Sebuah papan besar dipasang di koridor untuk memajang karya kami. Puisi, cerita pendek, dan gambar-gambar penuh imajinasi. Setiap hari setelah kelas usai, kami berlomba menempelkan karya di Papan Literasi. Saat menempel puisi atau cerita yang kami tulis, rasa bangga di dada langsung menghampiri. Murid lain berkerumun membaca karya kami, saling memberi pujian dan inspirasi. Sekolah pun terasa menjadi “museum kreativitas” kami. Setiap ide kecil didengarkan dan dihargai.

   Kreasi Ayah membawa perubahan besar di sekolah dan masyarakat sekitar. Nilai ujian kami naik drastis, dan semangat membaca meledak. Guru-guru dari berbagai penjuru nusantara pun berbondong datang. Ingin meniru cara Ayah mengajar. Masyarakat tetangga sekolah ikut merasakan efek positifnya. Mereka membuka lapak-lapak, yang menjual makanan khas dan minuman segar untuk para tamu yang datang.

   Kini Ayah telah pensiun. Ia tak lagi berdiri di depan kelas dengan kapur. Tetapi semangat mengajar tak pernah luntur. Kadang ia duduk di beranda rumah sambil membaca tulisan-tulisan lama sebelum tidur. Kadang ia menyambut mahasiswa dan guru-guru muda yang datang teratur. Mereka yang ingin mendengar kisah pengalaman dan mencari literatur. Papan Literasi masih berdiri. Kini menjadi saksi bisu jejak seorang guru dari desa kecil. Ayah adalah lentera kami, bahkan setelah kelas itu tak lagi ia pijaki.

Referensi:

  1. https://satuguru.id/hajatan/liga-menulis/berlimpah-rezeki-dengan-satu-judul-buku/
  2. https://data.tempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612118734/resep-guru-durori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *